Tuesday, August 22, 2006

Melatih Guru, Mencerdaskan Bangsa

Kalau ingin jadi kepala sekolah, jadikan itu sebagai bintang terang Anda. Kalau ingin jadi kepala dinas, jadikan itu sebagi bintang terang. Bila ingin menjadi menteri pendidikan, jadikan itu juga sebagai bintang terang Anda. Yakinkan hari ini Anda bisa meraih bintang terang itu.

"Akulah juara sejati … Akulah juara sejati … Akulah juara sejati." Teriakan itu menggema seantero ruangan. Bergetar setiap dada yang memekikkannya. Tak terasa butiran air beningpun mengalir dari sudut kelopak mata beberapa orang di antara mereka. Ya, mereka para guru yang mengikuti pendidikan dan pelatihan dalam program Corporate Social Responsibility (CSR) PT. Telkomunikasi Indonesia dan Harian Umum Republika, angkatan IV di Training Center Telkom Bandung, 11-12 Agustus pekan lalu.

Beberapa guru terisak sekaligus tersadar akan kekeliruannya yang dimilikinya selama ini. Mereka pun berikrar untuk menjadi yang terbaik dan meraih "bintang terangnya". Ya, bintang terang adalah tujuan cita-cita besar yang ingin diraih dalam sisa hidupnya.

"Kalau Anda ingin jadi kepala sekolah, jadikan itu sebagai bintang terang Anda. Kalu Anda ingin menjadi kepala sekolah, jadikan itu sebagi bitang terang Anda. Kalau Anda ingin menjadi kepala Dinas, jadikan itu sebagai bintang terang Anda. Dan Kalau Anda ingin menjadi meteri pendidikan jadikan itu juga sebagai bintang terang Anda. Dan yakinkan hari ini bahwa Anda bisa meraih bintang terang itu," teriak Jamil Azzaini, pengajar sesi motivasi sekaligus menjadi sesi akhir pelatihan, angkatan IV di Bandung.

Para guru pun terdiam. Namun, gelora dalam dada mereka yang membuncah menjadi pijaran api yang melecutkan semangat maju. Nampak muka para pahlawan tanpa tanda jasa itu pun merona penuh harapan akan cerahnya masa depan.

"Saya ditinggal mati suami ketika baru merampungkan S2 saya. Sejak itu saya kehilangan motivasi. Saya pikir tidak ada gunanya S2 yang saya raih. Namun, sekarang saya sadar bahwa saya ternyata masih bisa melakukan banyak hal. Saya ingin menjadi guru terbaik. Dan saya ingin meraih bintang terang saya, menjadi seorang pengusaha besar seperti Bakrie dalam waktu sepuluh tahun mendatang," ucap seorang guru dengan nada bergetar saat berbincang dengan sesame guru lainnya. Ada nada penyesalan dari kata-kata yang diucapkannya. Namun juga terdapat semangat dan gairah begitu besar untuk berubah mencapai kemajuan.

Sebagai pengajar motivasi, Jamil Azzaini memenag bisa "mengharu-birukan" pelatihan guru yang diikuti 50 orang pengajar SD, SMP, dan SMA di Bandung itu. Tak pelak, sesi terakhir menjadi klimaks sekaligus yang paling berkesan bagi peserta.

Tidak hanya angkatan IV di Bandung, peserta pelatihan angkatan I hingga III di Jakarta juga merasakan hal sama. Motivasi mereka untuk mengembangkan kepribadian diri, meningkatkan kualitas dan kompetensi sebagai guru menjadi semakin bergelora.

"Saya sangat terkesan dengan pelatihan ini. Saya jadi tersadar banyak kekurangan yang saya milik. Dan saya akan membagi pengalaman ini kepada teman-teman guru yang lain agar mereka mendapatkan manfaat seperti yang saya dapatkan dalam pelatihan ini," tutur Helena Asri Sinawang, guru SMA Negeri I Bandung.

Tanggapan para peserta pendidikan dan pelatihan guru Telkom-Republika angkatan pertama hingga tiga, tak kalah hebat disbanding komentar guru dalam pelatihan ke IV itu. Mawardi, guru SMP II Depok bahkan memuji sesi motivasi dan bahkan mengundang pengajarnya untuk datang ke sekolah tempatnya mengajar. "Para guru perlu materi demikian," katanya usai mengikuti pelatihan angkatan kedua di Jakarta beberapa waktu lalu.

"Pelatihan Telkom-Republika perlu menjadi model. Inilah pelatihan paling hebat yang pernah saya ikuti selama ini," kata Tuti Alawiyah, guru SD Citra Alam Ciganjur, yang juga turut dalam pelatihan angkatan kedua.

Rata-rata peserta juga menyarankan program demikian terus dilaksankan dan perlu menyentuh lebih banyak sekolahan. "Pelatihan ini membuat kami lebih percaya diri. Dan harus menjadi program nasional karena masih banyak guru yang memerlukan pendidikan dan pelatihan serupa," ungkap Sri Hartini, peserta pelatihan angkatan pertama di Jakarta.

Materi Berbeda

Program pendidikan dan pelatihan guru Telkom-Republika akan diadakan 10 angkatan selama Aprli 2006 hingga April 2007. Tujuh pendidikan dan pelatihan dilaksanakan di Jakarta dan tiga lainnya di Bandung. Setiap angkatan diikuti 50 orang guru dan 25 kepala sekolah yang terdiri dari SD, SMP, dan SMA. Dari empat angkatan yang sudah ditelar, sebanyak 200 orang guru telah mengikuti dan merasakan manfaat pelatihan ini.

Materi yang diberikan dalam pelatihan ini memang dirancang berbeda dari materi pelatihan guru pada umumnya. Materi tersebut adalah komunikasi efektif, keperibadian menarik, proses kreatif, teknik menulis popular, pengenalan teknologi informasi, dan motivasi diri.

Sejumlah nama besar menjadi pengajar dalam pelatihan guru ini, antara lain musisi Purwatjaraka, Dirjen Pemberdayaan Sosial Depsos Prof Gunawan Sumodiningrat, serta sejumlah artis terkenal seperti Maudi Kusnaidi, shahnaz Haque, Neno Warisman, dan sebagainya.

Pada angkatan IV, para pengajarnya adalah Dr. Neni Yulianita (komunikasi efektif), Leila Mona Ganiem Spd Msi (kepribadian menarik, Tisna Sanjaya (proses kreatif), Anif Punto Utomo (teknik menulis popular), Yadi Karyadi (pengenalan TI), dan Jamil Azzaini (motivasi diri).

Selain pakar komunikasi dari Unisba Bandung, Dr. Neni Yulianita mengingatkan pentingnya komunikasi efektif dalam proses belajar mengajar di sekolah. Guru, katanya, harus memilki kemampuan ini agar proses belajar bisa berjalan dengan baik dan lancer. Lebih dari itu, juga akn timbul keakraban antara guru dan murid.

Komunikasi efektif, lanjut Neni, bisa dilakukan dengan komunikasi secara tertulis, lewat gambar, gerak-gerik tubuh, bahasa lisan, komunikasi kelompok, lewat aksi atau tindakan dengan menggunakan sentuhan, serta medium seni.

"Apapun status, pekerjaan, jenis kelamin, dan posisi atau jabatan, komunikasi efektif adalah penting untuk kemajuan. Bagi guru, jika bisa berkomunikasi secara efektif, maka akan meningkatkan kualitas pengajarannya. Guru yang berkualitas memiliki peran penting bagi kecerdasan anak didiknya," demikian tuturnya.

Proses Kreatif

Seniman dan dosen seni rupa ITB, Tisna Sanjaya, dalam paparannya mengingatkan tentang pentingnya proses kreatif bagi guru. Kita, katanya, sering kali hanya melihat hasil akhir sebuah karya atau hasil tanpa mencermati proses yang harus dilalui.

Untuk melatih kreativitas itu, Tisna meminta para guru menggambar di atas kertas. Temanya diambil dari puisi "Aku" karya Chairil Anwar. Para guru itu dibebaskan menggambar apapun sesuai ide dan interpretasinya tentang puisi karya salah seorang penyair besar Indonesia itu. Hasilnya, beragam lukisan terpampang dengan makna yang berbeda-beda.

"Medium seni sangat efektif untuk melatih kreativitas. Tapi bukan berarti setiap guru harus berkesenian. Menurut saya, kemampuan kreatif guru masih perlu ditingkatkan," ujarnya. Proses kreatif ini, ungkap Tisna, sangat relevan dengan peningkatan kompetensi guru. Misalnya guru matematika, dengan adanya proses kreatif dan belajar seni, maka dia akan mencari media yang tepat sebagai eksperimen agar siswa senang dan akrab dengan matematika.
(Sumber Harian Republika - Sabtu, 19 Agustus 2006)

0 Comments:

Post a Comment

<< Home

Bisnis di Internet