
Peringatan Satu Abad Hari Kebangkitan Nasional oleh Al-Zaytun ditandai dengan berbagai tindakan nyata, melakukan hal-hal penting untuk mewujudkan kebangkitan bangsa. Di antaranya, selain mengibahkan sejumlah sapi pejantan unggul kepala Negara, juga papa bulan Mei ini mendatangkan 1.118 kepala sapi perah remaja dari New Zealand.
Impor sapi perah ini dalam rangka pengembangan peternakan sapi perah modern dan terpadu di kawasan pertanian terpadu Waduk Windu Kencana, Al-Zaytun di Incramayu, Jawa Barat. Hal ini dihajatkan untuk ikut mengatasi pemenuhan kebutuhan susu dalam negeri yang sampai scat ini masih lebih banyak yang diimpor.
Setelah menempuh proses panjang dan berbelit, izin impor 1.118 kepala sapi itu akhirnya diperoleh. Yang mengeluarkan izin bukan Departemen Perdagangan, tapi Departemen Pertanian, cq Dirjen Peternakan.
Sementara proses di New Zealand sangat terukur dan cepat. Pada tanggal 22 April sudah dikapalkan dan akan tiba di tanah air tanggal 24 Mei 2008. Diharapkan dengan modal 1.118 kepala sapi yang diimpor ini, lima tahun ke depan Al-Zaytun sudah dapat memberi sumbangsih pemenuhan kebutuhan susu nasional secara signifikan, juga akan menjadi pusat bibit sapi nasional. "Karena yang kita impor ini, menurut orang New Zealand bagus, dan menurut kita juga bagus," kata Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang, ketika dikonfirmasi tentang hal ini.
Setelah ini, kata Syaykh Panji Gumilang, mereka akan ke Kanada, berburu sapi bagus. Ke Kanada bukan mengimpor sapinya tapi bakal sapinya, sel spermanya. "Karena itu lebih ringan risikonya. Satu, penyakitnya nol. Kedua, transportasi sepersekian. Kemudian jangka waktu penyimpanan, no problem, tidak perlu kandang, hanya perlu lemari," ujar Syaykh.
Al-Zaytun menargetkan pertumbuhan jumlah sapinya sebesar 400% per lima tahun. Pada tahun 2013 AI-Zaytun sudah akan memilik 5.000 kepala sapi, 2018 menjadi 20.000 kepala dan 2023 sudah akan mencapi 80.000 kepala.
Kita akan buktikan apa yang dicita-citakan Hindia Belanda dulu 1818, In¬donesia menjadi pusat peternakan tercapai di 2008-2013 atau selambatnya 2018 lah. Cita-cita itu diterapkan oleh Tasman di New Zealand sehingga menjadi lautan Tasmania, orang Belanda juga, sama nenek moyangnya. Sapi di Indonesia dan New Zealand sama di datangkan, bareng tahun 1818. Sama-sama FH. Di sang sudah maju di sini belum maju, tunggu 2018," tegas Syaykh.
Beda dengan Australia. "Makanya kita tidak mengambil dari Australia karena nenek moyangnya berbeda dengan kita. Kalau New Zealand, nenek moyangnya Belanda, sama dengan kita. Saya tidak mau mengatakan nenek moyang kita orang Majapahit. Majapahit nggak memberikan sapi, jalan, tapi ngasih patung," kata Syaykh Panji Gumilang. Nenek moyang yang dimaksudkan adalah nenek moyang yang kasih jalan, kasih peternakan, kasih pertanian.
Sekarang New Zealand sudah punya 8 juta sapi, sementara Indone¬sia masih 300 ribu saja. "Ini di mana salahnya? Ternyata harus nunggu 200 tahun. Tidak apa-apa yang penting ada. Kita pernah jadi bangsa yang termaju di dunia, nah kita ulangi. Jangan bilang kita tidak pernah maju. Nenek moyang kita seorang pelaut tapi yang bust kapalnya Belanda, jangan marah itu kenyataannya. Nah, orang Tegal, Pekalongan, semua daerah yang di pinggir laut ikut semua. Orang Semarang, Gresik, Indramayu, Demak juga ikut, jadilah pasukan. Kemudian dipertahankan negara-negara pesisir dan akhirnya mereka diangkat menjadi angkatan laut," Syaykh menjelaskan.
Maka coba tanya orang Bandung, apa mereka bisa mencari ikan? Tidak. Yang bisa hanya orang Indramayu. Sekarang peninggalan-peninggalan Kereta kencana itu memang punya orang Jawa? Itu semua kereta orang Eropa, yang dijawakan. Jadi, nasional itu adalah Hindia Timur dari Hindia Belanda yang sekarang menjadi Indonesia.
Syaykh juga menguraikan bahwa pernah ada orang menggugat Indo¬nesia ini dari Belanda. Memang dari Belanda. Menurutnya, kalau tidak ada Belanda, tidak jadi Indonesia. "Harusnya bersyukur, berterimakasih kepada Belanda karena sudah mempersatukan kami yang terpecah¬pecah. Siapa yang membuat bahasa Indonesia menjadi lingua fragma kita? Belanda!" kata Syaykh.
Selengkapnya, berikut penuturan Syayk Panji Gumilang: "Belanda itu pintar mendatangkan Snookhurgoronye. Kenapa Snook? Karena orang sini banyak yang menulis dan membaca dari kanan, terbawa kebudayaan Arab. Van Der Plaast bahkan tulisan kanannya lebih bagus dari Syaykh, dari Timur Tengah. Siapa yang membekali kebangkitan nasional? Belanda. Karena kita dibekali 3 M, membaca, menulis, menghitung. Dibekali 3M saja bisa merdeka, itu hebatnya Belanda.
Pada jaman Belanda toleransi beragama berjalan. Orang Jatim tidak pernah berantem antar-agama. Persatuan itu jangan diabaikan. Kita dulu belum berhak menjadi pintar karena kita belum dapat 3M tadi, yang punya 3M itu Belanda.
Nah sekarang kita sudah menjadi pintar jangan benci terhadap orang yang lebih dulu pintar, maka tidak mengecilkan bangsa Belanda. Kalau itu bisa ditempuh, jayalah Indonesia. Bangsa Taiwan itu pernah dijajah Jepang selama 50 tahun tapi peninggalan-peninggalan Jepang masih dirawat dengan baik sampai sekarang. Mereka bilang kalau tidak dididik Jepang, kami belum bisa maju sampai sekarang, kami berguru pada Jepang dan peninggalannya kami hormati. Indonesia belum bisa seperti itu kan. Itu butuh proses panjang dan pendalaman.
Berpikir sejarah berbicara seperti itu, bangsa kita dulu belum bisa melakukan apa-apa, nanam padi, nanam kopi saja belum bisa. Yang dinamakan mengejar rempah-rempah, bukan berarti di sini banyak rempah-rempah tapi di sini cocok untuk menanam rempah, jadi dibawalah bibit dari berbagai negara ditanam di sini bersama-sama kemudian dibawa lagi ke Belanda. Seakan-akan di sini gudangnya rempah-rempah. Seperti sapi, kelapa, buah asam, dan sebagainya itu bawaan Belanda.
Hutan lebat di dalam sana jangan-jangan juga bawaan Belanda. Kemudian tatkala Belanda pergi, gundullah hutan Indonesia. 60 tahun saja hutan ini habis oleh bangsa sendiri. Jadi jangan terlalu mengecilkan, memelihara lah. Wong, pada zaman Belanda, ngangon kerbau di pinggir jalan saja didenda, kuda lecet sedikit saja didenda. Sekarang bukan kuda lecet yang didenda, manusia berlumuran darah tidak ada yang mendenda, masjid dibakar, gereja dilempari tidak ada yang menyetop. Nah itu budaya. Maka perlu pendidikan jangka panjang.
Ingat, Belanda pernah menjadi super power dunia, intinya adalah negara kita ini. Membangun Amsterdam itu dibiayai dari sini dan di sini gagal. Negara terpencil jauh dari mana-mana tapi sudah punya kereta api di saat kereta api baru bangkit, punya pabrik-pabrik di saat pabrik¬pabrik baru bangkit, sudah punya kapal api di saat baru ada kapal api. Mengapa bangsa Belanda sampai sekarang terngiang-ngiang pada beras Cianjur, Rojolele itu? Karena dulu beras Cianjur khusus di ekspor ke Eropa. Jangan terlalu membenci, tidak ada untungnya. Karena dari situ kita mengenal beragam budaya. Coba kalau kita dilepas begitu saja, tidak tahu kita sudah bisa bercelana atau belum.
Sumber : Majalah Berita Indonesia Edisi 57 - 2008>
Berita Selengkapnya !